Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Belajar Al-Quran Pada Anak

Peran motivasi dari orangtua bertambah penting mengingat banyak kendala menghadang yang menjadikan anak tidak dapat tekun, rajin, dan disiplin dalam belajar alquran pada anak, seperti kendala lingkungan, televisi misalnya, teman yang burukm dan kendala berupa budaya sifat malu dan sifat merasa bisa (arogan). Dua kendala terakhir yaitu sifat malu dan sifat merasa bsa merupakan kendala yang perlu diantisipasi orangtua, karena dengan mengedepankan sifat malu dan merasa bisa pada anak, anak akan terhalang dari belajar. Seorang tokoh tabi’in bernama Mujahid telah mengantisipasinya sejak dini. Menurutnya tidak akan meraih ilmu orang yang malu dan orang yang merasa bisa (sombong).

Bentuk motivasi pada anak, orang tia dapat memberikan hadiah (reward) atau pujian sewajarnya jika anak tekun, rajin, dan disiplin dalam belajar Al-quran pada anak, utamanya bila anak menunjukkan prestasi yang menggembirakan, seperti khatam Juz-amma, khatam Al-quran, dan sebagainya. Sebalinya bila anak enggan belajar Al-Quran, maka orang tua dapat memotivasinya dengan memberikan semacam hukuman (punishment) atau sekadar peringatan kepada anak. Motivasi orang tua berupa hadiah (reward) atau pujian sewajarnnya akan berpengaruh cukup besar dalam mendorong anak disiplin belajar Al-quran. Karena hadiah dan pujian akan menumbuhkan cinta dan cinta selanjutnya akan menumbuhkan kerelaan dan keihlasan dalam belajar. Sabda Rasulullah SAW “Saling berhadialah kamu niscaya kamu saling mencintai” (HR Abu Ya’ala).

Menurut seorang ulama, anak tidaklah semata-mata tersentuh oleh motivasi-motivasi duniawi saja. Anak bissa tergerak oleh motivasi-motivasi religious. Ia akan tergerak untuk melakukan suatu tindakan ketika dalam hatinya mucul dorongan-dorongan yang bersumber dari agama. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan motivasi perlu dibangun dalam diri nanak ketika orangtua berusaha membudayakan tradisi belajar Al-quran pada anak. Katakan padanya bahwa  Al-quran merupakan kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kedudukannya sebagai mukjizat terbesar Beliau. Cinta kepada Allah SWT, merupakan puncak hidup yang harus diraih anak. Dan belajar Al-quran merupakan bukti nyata anak cinta kepada-Nya.

Cinta kepada Allah dan rasul-Nya sebagai motivasi bagi anak adalah salah satunya cinta yang menjamin anak kelak tidak pernah kehabisan daya untuk berprestasi menuju keridhaan Allah. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan cadangan dana bagi motivasi-motivasi lain yang dibangun oleh orang tua dalam diri anak sudah kehabisan daya. Dala hal ini orang tua perlu merenungkan kisah Luqmanul-hakim  dalam usahannya menanamkan kecintaan anaknya kepada Allah SWT. Dia memberikan sekian banyak nasihat kepada anaknya, kaitannya dengan landasan mencintai Allah SWT yang anggun dan mengesankan “pangkal agama adalah nasihat” begitu bunyi hadist sahih dari rasullah SAW.